Pages

Tampilkan postingan dengan label Pikiran acak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran acak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2016

Kamu asli mana?

Bapak dan Anak
Di Mill 74, Tembagapura

Hampir setiap orang pernah mendapatkan pertanyaan template, salah satunya: "(Kamu) Aslinya mana?". Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti itu, hati langsung berkecamuk sambil bergumam dalam hati "wah, cerita panjang lagi nih." sambil menghela nafas panjang.

Jawabnya bagaimana ya?

Bapak asli Lawang, Malang, sedangkan Ibu asli Ngantru, Tulungagung namun besar di Surabaya. Sedangkan saya, errr 15-16 tahun lahir dan besar di Tembagapura, Papua, dan kini berdomisili di Surabaya. Iya, saya selalu bilang kalau saya kelahiran Papua, jarang bilang asli Papua. Tapi bagaimana pun juga, Papua mengalir di dalam darah saya. Saya selalu rindu akan tanah kelahiran Tembagapura. Dan saya yakin pasti anak-anak Tembagapura juga pusing jika mendapat pertanyaan seperti ini.

Kemudian respon lawan bicara, "Kok ga keriting rambutnya."

Ealah.

Senin, 07 Maret 2016

Jangan terlalu sibuk dengan gadget, ah!

Halo, postingan pertama di bulan Maret 2016!

Belakangan hari ini saya sedang buka-buka channel YouTube Erix Soekamti. Konten videonya bagus dan sangat menginspirasi. Dibandingkan vlog artis lokal yang pernah saya lihat, vlog milik Erix Soekamti termasuk yang paling update. Setiap 1-2 hari selalu ada video terbaru. Ada vlog yang menarik menurut saya, yaitu percakapan random suami-istri di dalam mobil:


Entah mengapa, saya suka saja. Sungguh percakapan yang random, intim, dan koplak!

Kebalik, harusnya cewek yang pegang gadget!

Gini ini saya jadi ingat masa lalu, jamannya masih punya pasangan, kalau di mobil atau di tempat manapun kebanyakan diam. Diamnya karena si pasangan terlalu asyik dengan gadget-nya! Entah mengapa saya merasa risih saja. Mana komunikasinya? Mungkin ada benarnya juga dengan kutipan "mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat". Nah ini, kalau tiba-tiba ingat yang dulu-dulu, bawaannya langsung jengkel. Tapi di sisi lain, alhamdulillah wa syukurillah; sudah masa lalu. Mari buka lembaran baru. Semoga suatu saat nanti dapat pasangan yang tidak terlalu adiktif dengan gadget. Hehe.

Minggu, 07 Februari 2016

Tersenyum dan malu melihat tulisan sendiri di blog.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Setelah membaca quote ini, saya langsung teringat blog saya yang jarang diakses ini. Seketika langsung log-in dan melihat postingan-postingan jadul sejak awal bermain blog tahun 2007. Sebelum punya akun blogger ini, saya sudah menulis blog di sosial media yang lagi happening saat itu: Friendster. Kelihatan banget tuanya, haha! Saya lupa karena ada sesuatu yang terjadi dengan Friendster, saya akhirnya mencoba situs blogger ini, sesuai dengan referensi pacar (atau sudah mantan?) saat itu.

Jika diurut mundur ke tahun 2007, ada kesan tersendiri serta menanggung rasa malu yang teramat sangat begitu melihat tulisan yang sudah di-publish di blog. Gaya tulisan acak-adut khas anak alay Surabaya saat itu. Tulisannya tidak penting pula! Bagi yang pernah membaca beberapa tulisan random saya, izinkan saya untuk menghaturkan permohonan maaf ini karena waktu kalian banyak yang terbuang hanya karena mengakses blog yang random ini. Bagi yang pernasaran dengan tulisan saya terdahulu, siapkan mental dan silakan mengrenyitkan dahi atau bahkan menggelengkan kepala sambil mengelus dada. Saat itu, saya sedang greget menulis ini-itu (yang sebenarnya, tidak penting untuk ditulis), semacam candu yang tidak tertahankan.

Seiring berjalannya waktu, gaya penulisan sudah mulai saya perhatikan seperti saat ini yaitu memperhatikan pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak hanya di blog. Gaya penulisan juga saya mulai perhatikan di social media atau micro-blogging seperti di Twitter dan mayoritas di Path. Seperti yang pernah saya angkat di tulisan beberapa bulan yang lalu, hasrat menulis blog saya berkurang karena kalah dengan situs micro-blogging yang lebih cepat untuk diakses.

Saya ingin mencoba menulis panjang lagi, tidak berbatas 140 karakter seperti halnya di Twitter. Saya ingin menghidupkan blog ini dengan tulisan random. Tidak peduli ada yang mau mengakses atau tidak via link yang saya share via Twitter untuk saat ini. Bagi teman-teman yang dulu punya akun blog, mari luangkan waktu untuk menulis lagi, sesibuk apapun kegiatan kalian.

By the way, saya menulis ini sambil dengar Genesis - Three Sides Live full album (1982) via YouTube.

Kamis, 07 Januari 2016

#Twitter10K

Postingan pertama di tahun 2016! Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat tahun baru, semoga apa yang kita cita-citakan di tahun-tahun sebelumnya, bisa terealisasi di tahun ini. Amin!

Oke, saatnya menulis blog tipis-tipis. Kemarin (6/1) saya tidak sengaja melihat berita dari halaman SuaraSurabaya.net mengenai Twitter yang berencana menaikkan batas karakter dari 140 menjadi 10,000 karakter! Boleh juga inovasinya, setelah beberapa saat yang lalu Twitter menambahkan fitur vote, yang memungkinkan penggunanya bisa melakukan survey kepada follower(s)-nya. Untuk inovasi #Twitter10k (hashtag Trending Topic kemarin) yang belum tahu akan dirilis kapan, menurut saya cakep untuk ukuran micro-blogger tersebut. Bisa-bisa, para blogger atau penulis novel senior membuat cerpen dalam 1 tweet super panjang. Mungkin, blog konvensional seperti yang saya pakai ini berangsur-angsur ditinggalkan.

Kita lihat saja nanti apakah Twitter beneran memberlakukan 10,000 karakter yang rencananya akan dirilis di triwulan pertama.

Selasa, 29 September 2015

Menulis adalah obat hati? Mungkin.

Belakangan hari ini saya menyempatkan buka account blogger. Niatnya ingin menulis sesuatu, tapi sayang, bingung mau menulis apa. Saya jadi paham kenapa penulis buku mau merilis 1 buku novel saja sampai bertahun-tahun. Mencari inspirasi ternyata susah juga, tidak serta-merta muncul begitu saja. Kadang, ketika inspirasi untuk menulis muncul, media untuk menyalurkan tidak ada. Misalnya, kertas, buku, pulpen. Repot juga.

Ada juga hasrat menulis mendadak muncul karena sedang emosi. Mungkin ada beberapa orang yang tidak bisa mengungkapkan rasa kekesalan atau kekecewaan akan sesuatu secara verbal, saya salah satunya. Mengeluarkan satu patah kata saja tidak mampu, kasihan (Ah, jadi pengen berterima kasih kepada penemu Twitter,  Jack Dorsey beserta teman-temannya Evan Williams, Biz Stone dan Noah Glass telah menciptakan social media yang memungkinkan para pengguna internet menulis sesuatu secara cepat, singkat meski dibatasi 140 karakter saja). Saking emosinya, menulis saja jadi berantakan dalam mengambil kosakata yang pas. Di sini enaknya menulis, jika ada kata yang salah bisa langsung di-edit cukup dengan pencet backspace. Bagi saya dengan menulis bisa meredam emosi saya yang kata sebagian orang berapi-api, padahal saya banyak diamnya loh, kalau sudah marah berarti si pembuat masalah sudah fatal banget dalam bermain api :p Hal ini berbeda dibandingkan dengan verbal, sekali kata-kata yang kurang tepat keluar, tidak akan bisa ditarik lagi. Bahaya jika kata-kata yang terlanjur terlontar dinilai bisa menyakiti hati pendengarnya.

Bagaimana pun juga, hasrat menulis tidak bisa dipaksakan. Kalau memang inspirasi tidak muncul meski sudah ditemani oleh secangkir kopi (kalau ditemani pasangan, mending melakukan kegiatan lain) jangan bersedih hati. Mungkin inspirasinya masih jalan-jalan mencari another inspiration, hehe! Lebih bagus lagi kalau menulis itu menggunakan hati, tidak menggunakan emosional. Mengutip dari tweet teman saya, Safita Permatasari: "Tulisan yang ditulis oleh hati, pasti akan meninggalkan rasa di hati."

Baiklah, sampai di sini dulu tulisannya saya. For your information, tadi awalnya menulis blog ini sambil emosional. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, saya tidak jadi marah-marah. Menulis memang cukup mengobati rasa sakit di hati, Have a nice day!


Jumat, 21 Agustus 2015

Hasrat nge-blog menguap

Seandainya posting blog bisa semudah posting status di social media seperti Path. Tanpa perlu log-in dulu. Saya mengamati teman-teman saya yang dulunya suka ngeblogging sekarang lebih suka nulis panjang lebar di Path. Mungkin karena simple saja aksesnya. Sudah itu saja. Hasrat menulis blog saya sudah menguap seiring dengan menyalakan komputer, buka browser, dan lain-lain.

Nanti disambung lagi deh. Kalau tidak malas.

Jumat, 11 April 2014

Teman Sesi Curhat

Sebagai orang terdekat bagi orang tua, sahabat atau teman harus siap sedia kapanpun di manapun untuk mendengar cerita baik menyenangkan atau keluh-kesah, istilah bahasa kekiniannya adalah curhat. Seperti yang kita ketahui kalau sudah waktunya sesi curhat secara verbal alias tidak menggunakan media ketik-mengetik, bisa saja akan menghabiskan waktu 2 SKS (anggap saja 1 SKS = 50 menit, eh kayak tatap muka perkuliahan saja) bakal menjadi satu kegiatan yang membosankan bagi pendengar yang diajak curhat, apalagi kalau via telepon, bisa-bisa battery drop atau telinga panas.

Orang yang melakukan sesi curhat ini sejatinya hanya ingin menumpahkan segala uneg-uneg dalam kepalanya, karena kalau dipendam bisa-bisa bawaannya stress. Sebagai orang yang diajak curhat sebaiknya menjadi pendengar yang baik. Tidak langsung memotong pembicaraan untuk memberi tanggapan atau masukan. Anggap saja kalian sedang kuliah, toh biasanya kita tidak memotong pembicaraan dosen kan? Tunggu sampai akhir perkuliahan, baru deh memberi feedback.

Memberi feedback seperti masukan, pandangan, saran, kritik sebaiknya disampaikan dengan santun agar mereka para pelaku sesi curhat tidak tersinggung. Hargai perasaan mereka. Buat mereka merasa nyaman agar sewaktu-waktu mereka mau kembali lagi untuk melakukan sesi curhat.

Demikian tulisan random saya hari ini. Sekalian check blog gitu ceritanya. Selamat sore, selamat menjelang weekend!