Pages

Senin, 02 September 2019

Now Loading: Buah Hati

Ketika saya menulis ini Insha Allah usia kandungan Galuh (kalau tidak salah hitung) memasuki 30 weeks. Menurut dokter kandungan kami HPL (hari perkiraan lahir) adalah di bulan November 2019, bisa minggu awal atau minggu kedua. Kami harus bisa memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk mencari kebutuhan si bayi ketika sudah lahiran. Tinggal dua bulan lagi. Nama lengkap bayi pun belum kami siapkan! 

Ibu mengandung 23 minggu
17 July 2019, ketika usia kehamilan 23 weeks

Soal jenis kelamin sebenarnya kami sudah tahu. Tapi karena ibu dan bapak, orang tua kandung saya, tidak pengen dikasih tahu jenis kelaminnya hingga kelahiran nanti (biar kejutan, katanya) akhirnya kami juga "merahasiakan" kepada setiap orang yang bertanya. Biarlah orang-orang menebak sendiri dari bentuk perutnya Galuh (yang konon katanya jenis kelamin bayi bisa dilihat dari bentuk perut si ibu). Eh, padahal papa dan mama, orang tua Galuh, sudah tahu dari awal. Tapi kami berpesan jangan sampai keceplosan ketika suatu nanti para orang tua sedang asyik ngobrol di ruang tamu atau via telpon. 

Sehat dan bahagia selalu untuk ibu dan bayi di dalam kandungan. Kira-kira lahir anak laki atau perempuan? 

Sabtu, 13 Januari 2018

New chapter of life: Menikah

Assalamualaikum! 

Apa kabar? Sebelumnya ijinkan saya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2018. Semoga harapan dan mimpi kita bisa terwujud, senantiasa dikarunia rejeki, kesehatan serta perlindungan oleh Allah SWT. Amin.

Langsung cerita sedikit saja ya.

Pernikahan
Akhirnya punya buku nikah! (5/11/2017)

Pada hari Minggu, 5 November 2017 telah diselenggarakan prosesi akad nikah di rumah mempelai putri pada pukul 0800. Alhamdulillah, segala prosesi berjalan dengan lancar serta didukung cuaca yang cerah dan hangat karena di bulan itu sudah mulai memasuki musim penghujan. Yang jelas, moment tegang saya di prosesi ijab-kabul sudah terlewati! 😆 

Resepsi pernikahan (19/11/2017)
Acara syukuran akad nikah dihadiri oleh sanak saudara dari masing-masing keluarga besar, teman dekat mempelai putri, serta tamu undangan dari para tetangga. Untuk acara di tanggal ini (5/11) tidak semua mendapat undangan karena keterbatasan tempat dan memang dikhususkan untuk keuarga dan kerabat terdekat. Oleh karena itu dilangsungkan resepsi pernikahan 2 minggu kemudian setelah acara akad nikah yaitu pada tanggal 19 November 2017.

Mengapa kami mengadakan dua acara dengan jeda waktu yang lumayan jauh? Semoga di waktu senggang nanti istri saya, Galuh Pramesi, bisa berbagi ceritanya di situs blog-nya secara mendetail.

Atau saya yang cerita? Lihat nanti deh!


Selasa, 03 Oktober 2017

Hari-H semakin dekat!

Sejak menulis postingan yang terakhir dan sibuk mengurus administrasi pernikahan dan pernak-pernik pernikahan dari beberapa vendor, tidak terasa hari-H semakin dekat. Mungkin secara presentase, Insha Allah sudah sekitar 80% persiapannya. Banyak pengalaman yang saya dan Galuh lewati bersama baik suka maupun duka (lebih banyak sukanya, sih) dalam mempersiapkan ini.
Biar tidak stres mengurus persiapan pernikahan,
luangkan waktu dengan menonton film di bioskop.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya share di blog ini. Namun, Galuh sudah posting di blog-nya mengenai persiapan sebelum memasuki "persiapan pernikahan". Persiapan di sini lebih ke arah pendekatan diri kita kepada keluarga pasangan. Bisa saja kan kita sebagai pasangan sudah click, namun belum tentu dengan keluarga inti pasangan?

Selain itu menghadapi fase penentuan tanggal dan venue pernikahan. Enaknya, perhelatan acara dilaksanakan pada hari apa (biasanya, kalau tidak Sabtu, ya Minggu) dan tanggal berapa (yang jelas, tidak tanggal 32) dan jam berapa? Menentukan tanggal pun tidak semudah kita memilih paket makanan McDonald's (saya suka paket Big Mac dengan kentang dan soft drink di-upsize) karena kita juga harus mencocokan ketersediaan tanggal di venue yang dipilih dan untuk kami yang berada di ruang lingkup keluarga Jawa, penentuan tanggal pelaksanaan pernikahan juga harus memperhatikan weton jawa: tanggal dan hari baik.
Terakhir bikin pas foto kapan ya?
Kalau semua langkah di atas sudah dilewati, jangan lupa mengurus administrasi pernikahan. Semua kegiatan dimulai dari tingkat paling bawah yaitu RT-RW tempat kita tinggal (sesuai dengan KTP lho ya), kemudian ke tingkat kelurahan, pemeriksaan kesehatan baik calon mempelai pria maupun calon mempelai wanita di puskesmas kecamatan, dan diakhiri dengan memasukkan berkas di Kantor Urusan Agama. Alhamdulillah, tidak ada kendala yang berarti selama berurusan di kantor pemerintah, meski mungkin ada beberapa kebijakan yang berbeda di masing-masing wilayah di mana calon pengantin pria/wanita tinggal. Hanya satu kendala dari diri saya sendiri, yaitu suka menunda waktu, hehe.

Setelah menikah nanti Insha Allah saya akan menulis yang lebih lengkap mengenai pernikahan dari A sampai Z di blog ini. Sekarang lebih menjaga kondisi kesehatan lahir-batin. Sudah mulai deg-deg serrr, eh!